Walaupun rindu ini terlalu sakit
Ada juga keindahannya
Walaupun rindu ini menyiksakan
Ada juga kegembiraannya
Friday, 30 May 2014
Sunday, 25 May 2014
Menantu dan Mertua
Apabila kita bernikah sahaja dengan pasangan kita,secara tidak langsung kita akan terus mendapat ibu bapa mertua.Taraf dan penghormatan kita terhadap ibu bapa mertua ini sama seperti ibu bapa kita sendiri.Ada tanggungjawab yang kita perlu laksanakan kepada mereka.
Tahu tak kita bahawa suami apabila bernikah.. maka
bertambahlah ibu bapanya.. iaitu termasuk ibu dan bapa mertuanya.. maka,
ibu bapa mertua juga merupakan ibu bapanya jua.. Sehubungan dengan itu,
Wajiblah si suami menjaga kedua ibu bapa mertuanya sebagaimana wajibnya
si suami menjaga ibubapa kandungnya sendiri..Mengecilkan hati ibu mertua adalah perbuatan yg tidak boleh di maafkan melainkan taubat -kelak nanti syurga nya tidak ada bauan bagi suami.
Suami
mengatakan syurganya adalah ibunya, dan syurga isteri adalah suaminya.
Benar itu dan kita tidak pernah nafikan perkara itu. Tapikan masih ada
tolak ansur dan timbang rasa dalam perkahwinan, terutamanya bila
melibatkan ibu bapa dan ibu bapa mertua.Tiada langsungkah nilai
ibu bapa isteri kepada suami sedangkan mereka telah membesarkan dan
memberikan pendidikan kepada si isteri. Sebagai seorang anak menantu
yang baik, suami sepatutnya dapat bertimbang rasa terhadap perkara ini. Jika dia melukakan hati ibu kepada
isterinya, adakah dia telah menjalankan tgjwb sebagai seorang anak
menantu yang baik?..... , sikap timbangrasa dan saling hormat
menghormati adalah penting dlm hidup berkeluarga ni. tak kira siapa la,
kita mestilah menghormati setiap anggota keluarga kita. tak kira tua
ataupun muda....semua tu terletak pd hati masing2.
Islam meletakkan martabat yang tinggi terhadap ibu,bapa dan juga
mertua,justeru tanggungjawab itu tidak boleh di abaikan oleh menantu
lelaki.Mengbaikan teguran dari mertua seolah-olah mengabaikan ibu bapa
sendiri. Ibu mertua dan ibu sendiri adalah sama....
syurga lelaki atau suami ini di bawah tapak kaki ibu... bukan hanya pada
ibu sendiri malahan ibu mertua...
Cara mewujudkan hubungan yang baik
-Pada dasarnya penyelesaian sesuatu
masalah adalah bergantung pada diri kita sendiri.Kitalah yang
bertanggungjawab untuk menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi.Jika hanya menunggu pihak lain untuk bertindak,kemungkinan besar penyelesaiannya akan menjadi lebih rumit.Maka bagi mereka yang mengalami masalah dengan mertua atau menantu,ada baiknya mereka mempertimbangkan beberapa saranan berikut:
Berdamai dengan diri sendiri:
- Ertinya menciptakan suasana
tenang dalam diri sendiri dengan mendekatkan diri pada Allah s.w.t dan
mengenepikan sebarang buruk sangka terhadap mertua.Alihkan fikiran
secara total pada hal-hal yang positif.Ingatlah bahawa setiap
perselisihan pasti melibatkan lebih dari seorang dan dalam hal ini tidak
ada manusia yang dapat lari dari kesilapan.
Oleh sebab itu,jka secara negatif
dan selalu meyalahkan orang lain,maka sekarang belajarlah sedikit demi
sedikit melihat sesuatu permasalahan secara objektif.Mulakan dengan
mengubah pola pemikiran kita sendiri.Ingatlah ungkapan yang mengatakan:”change your thoughts and you will change your world”
Komunikasi yang bijak akan melahirkan kedamaian Namun,jika hanya
sebelah pihak sahaja yang berusaha kearah perdamaian,sudah pastinya
matlamat untuk mendapatkan keharmonian dalam rumah tangga tidak
tercapai.Mertua juga seharusnya memainkan peranan yang penting dalam
perkara ini.Ada segelintir
mertua yang selalu campur tangan dalam kehidupan anak-anak mereka
walaupun sudah berkahwin.Sewajarnya,mereka tidak perlulah lagi masuk
campur dalam masalah dan kemelut rumah tangga anak-anak mereka.Berikan
mereka ruang untuk berbincang dan menyelesaikannya dahulu.Sebagai
mertua,kita hanya boleh memberi nasihat dan panduan kepada
anak-anak,tetapi biarlah mereka membuat keputusan sendiri untuk
menentukan corak kehidupan mereka.
Thursday, 22 May 2014
Ya Allah ampunilah kami
Ya
ALLAH..
Terangilah jiwa kami dengan cahaya-MU, bimbinglah langkah kami dengan
petunjukMu dan Jagalah kami dari siksa api neraka..
Ya ALLAH..
Bimbinglah agar kami senantiasa memperbaiki diri, menyesali tiap
kehilafaan dan berilah kekuatan agar kami mampu untuk tidak
mengulanginya..
Ya ALLAH..
Ampunilah kehilafan kami, orang tua kami, sahabat kami serta jamaah
semua yang membaca tulisan ini..
Aamiin Yaa Rabbal'aalamiin..
Subhanallah.. Rindunya Rasullullah SAW pd umatnya.
Suatu hari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bertanya: "Siapakah hamba ALLAH yang mulia?"
Para sahabat menjawab:"Para Malaikat yaa Rasulullah,dan tentulah para Nabi, merekalah yang mulia".
Rasulullah tersenyum lalu berkata:"ya,mereka mulia tapi ada yang lebih mulia".
Para sahabat terdiam lalu berkata:"adakahkami yg mulia itu, yaa Rasulullah?"
Rasulullah berkata:"tentulah kalian mulia, kalian dekat denganku, kalian membantu perjuanganku, tetapi bukan kalian yg Aku maksudkan.
Rasulullah lalu menundukkan wajahnya, Sang Baginda meneteskn air mata sehingga membasahi pipi dan janggutnya lalu berkata...
"Wahai sahabatku,mereka adalah manusia-manusiayang lahir jauh setelah wafatnya aku,mereka terlalu mencintai ALLAH & tahukah kalian..mereka tak pernah melihatku, mereka hidup tidak dekat denganku seperti kalian, tetapi mereka sangat rindu kepadaku & saksikanlah wahai sahabatku bahwa AKU SANGAT RINDU PADA MEREKA... MEREKALAH UMMATKU! "
SubhanAllah..
Apakah anda Rindu Kepada Rasulullah SAW ?
Ya Allah...
Pertemukanlah kami dengan Rasalullah SAW Di Akhirat Nanti.
Aamiin
SAYANGILAH KE DUA IBU BAPA KITA
Renungkan Lah Cerita Ini...
Dan Jangan Abaikan !!!!
Anakku, ketika aku semakin tua, aku berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untukku.
Suatu ketika aku memecahkan piring, atau di atas meja, karena penglihatanku berkurang aku harap kamu tidak memarahiku. Orang tua itu sensitif. Selalu merasa bersalah saat kamu berteriak.
Ketika pendengaranku semakin kurang jelas dan aku tidak bisa mendengar apa yang kamu katakan aku harap kamu tidak memanggilku “Tuli!”. Mohon ulangi apa yang kamu katakan atau menuliskannya. Maaf anakku, aku semakin tua.
Ketika lututku mulai lemah, aku harap kamu memiliki kesabaran untuk membantuku bangun, seperti bagaimana aku selalu membantu kamu saat kamu masih kecil, untuk belajar berjalan. Aku mohon jangan bosan denganku ketika aku terus mengulangi apa yang ku katakana, seperti kaset rusak, aku harap kamu terus mendengarkan aku. Tolong jangan mengejekku, atau bosan mendengarkanku.
Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil dan kamu ingin sebuah balon? Kamu mengulangi apa yang kamu mau berulang- ulang sampai kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Maafkan juga bauku. Tercium seperti orang yang sudah tua. Aku mohon jangan memaksaku untuk mandi. Tubuhku lemah. Orang tua mudah sakit karena mereka rentan terhadap dingin. Aku harap, aku tidak terlihat kotor bagimu.
Aku mungkin tidak akan bertahan lebih lama. Ketika waktu kematianku datang, aku harap kamu memegang tanganku dan memberikanku kekuatan untuk menghadapi kematian. Dan jangan khawatir ketika aku bertemu dengan Sang Pencipta, aku akan berbisik pada- Nya untuk selalu memberikan berkah padamu karena kamu mencintai ibu dan ayahmu.
Terima kasih atas segala perhatianmu nak. Kami mencintaimu dengan kasih yang berlimpah Ibu dan Ayah.
Dan Jangan Abaikan !!!!
Anakku, ketika aku semakin tua, aku berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untukku.
Suatu ketika aku memecahkan piring, atau di atas meja, karena penglihatanku berkurang aku harap kamu tidak memarahiku. Orang tua itu sensitif. Selalu merasa bersalah saat kamu berteriak.
Ketika pendengaranku semakin kurang jelas dan aku tidak bisa mendengar apa yang kamu katakan aku harap kamu tidak memanggilku “Tuli!”. Mohon ulangi apa yang kamu katakan atau menuliskannya. Maaf anakku, aku semakin tua.
Ketika lututku mulai lemah, aku harap kamu memiliki kesabaran untuk membantuku bangun, seperti bagaimana aku selalu membantu kamu saat kamu masih kecil, untuk belajar berjalan. Aku mohon jangan bosan denganku ketika aku terus mengulangi apa yang ku katakana, seperti kaset rusak, aku harap kamu terus mendengarkan aku. Tolong jangan mengejekku, atau bosan mendengarkanku.
Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil dan kamu ingin sebuah balon? Kamu mengulangi apa yang kamu mau berulang- ulang sampai kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Maafkan juga bauku. Tercium seperti orang yang sudah tua. Aku mohon jangan memaksaku untuk mandi. Tubuhku lemah. Orang tua mudah sakit karena mereka rentan terhadap dingin. Aku harap, aku tidak terlihat kotor bagimu.
Aku mungkin tidak akan bertahan lebih lama. Ketika waktu kematianku datang, aku harap kamu memegang tanganku dan memberikanku kekuatan untuk menghadapi kematian. Dan jangan khawatir ketika aku bertemu dengan Sang Pencipta, aku akan berbisik pada- Nya untuk selalu memberikan berkah padamu karena kamu mencintai ibu dan ayahmu.
Terima kasih atas segala perhatianmu nak. Kami mencintaimu dengan kasih yang berlimpah Ibu dan Ayah.
Ya Allah
Ya Allah! Sesungguhnya Engkau adalah Tuhanku;
tiada Tuhan yang berhak disembah, melainkan Engkau. Engkau telah
menciptakan diriku; aku adalah hambaMu dan telah berjanji untuk
mentaatiMu sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada Engkau dari
keburukan hal yang telah aku lakukan. Aku mengakui semua nikmat yang
telah Engkau berikan kepadaku, Dan aku mengakui pula dosa-dosa yang
telah aku lakukan. Oleh kerana itu, Ampunilah aku, Ya Allah...
Sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni dosa-dosa, Melainkan hanya
Engkau.. ya Rabb."
Wednesday, 21 May 2014
Mengapa Allah menguji kita?
Mengapa Allah menguji kita?
Apabila diuji dengan kesakitan, perpisahan, kegagalan, kemiskinan...
terdetiklah rasa , "Apakah Tuhan sayangkan aku?Kenapa aku diuji sebegini
berat sekali?"
Kenali Tuhan yang mengujimu !
Tanpa kita sedari kita sudah mempersoalkan kuasa Tuhan, padahal kita
hanyalah hambaNya. Hamba tidak berhak menyoal, sebaliknya akan disoal.
Namun, itulah kelemahan manusia. Kita sering alpa dan terlupa.
Paling malang, manusia kerap terlupa dirinya hamba. Terutama ketika
diuji. Sebab itu Allah mengajar kita kalimah 'istirja' setiap kali
diuji.
ان لله و إن اليه راجعون
"Kami milik Allah, kepadaNya kami akan dikembalikan"
Ya, inilah kalimah yang mengingatkan bahawa kita milik Tuhan, Tuhan
layak menguji kita dan kita layak diuji. Jangan sesekali menolak apalagi
'mengamuk' apabila diuji. Kita hanya hamba...
Namun, untuk meringankan kepedihan ujian yang menimpa, hendak kita
mengenal Allah yang memberi ujian itu, Kenallah sifat ilmu, kasih-sayang
dan belas ihsan Allah yang Maha Hebat. Sebagai hamba ilmu kita
terbatas, ilmu Allah yang Maha Luas. Kasih sayang kita cuma seraut,
kasih sayang Allah selaut. Orang yang mengenal Allah, akan mencintaiNya.
Orang yang mengenal kasih sayang Allah punya keyakinan bahawa keputusan
(takdir) Allah itu yang memberikan yang terbaik. Allah Maha Pengasih dan
Penyayang, tidak memberi sesuatu yang buruk untuk hambaNya. Justeru,
hamba yang baik tidak akan berburuk sangka terhadap Allah dengan
merasakan apa yang ditakdirkanNya (ujian) itu ialah sesuatu yang tidak
baik.
Yakinlah bahwa semua ketentuan Allah itu adalah baik. Ujian itu pasti
ada kemuslihatan yang tersembunyi untuk setiap kita. Pilihan Allah untuk
kita adalah yang terbaik, cuma kita tidak tahu atau belum
mengetahuinya. Bila berlaku nanti, barulah kita tersedar, Ya Allah,
mujur Kau takdirkan begitu. Kata arifbillah (orang yang mengenal Allah):
"Sekiranya kita merasakan kasih sayang
Allah itu terpisah apabila Dia menguji kita, itu petanda tumpulnya akal,
butanya mata hati"
Di antara hikmah ujian, seseorang akan dapat menambah tumpuan dan
tujuannya untuk menjadi hamba Allah. Yang mana selama ini, jalan itu
disekat oleh hawa nafsu. Sebab ujian bertentangan dengan kehendak,
keinginan nafsu dan syahwat manusia. Nafsu yang buas dan liar untuk
melakukan maksiat itu tidak suka pada sakit, rugi, miskin dan lain-lain.
Lalu apabila diuji, nafsu itulah yang terdesak, tidak sennag dan ingin
segera terlepas daripada ujian itu.
Jadi, apabila nafsu terdesak, hati dan akal akan terbuka. Inilah jalan
kebaikan, kerana ajakan untuk melakukan kejahatan akan turut tertahan,
kerana nafsu itu sangat mengajak pada kejahatan. Ujian itu sesungguhnya
akan melemahkan nafsu, menghilangkan kekuatannya serta batalkan
kudratnya. Bila nafsu lemah, manusia tidak akan jatuh ke lembah disa -
mengejar keseronokan dunia sehingga melupakan batasan syariat.
Ujian juga menimbulkan rasa taat kepada Allah. Hati tidak dapat tidak
mesti bersabar. Hati akan terdidik untuk redha dan tawakal. kerana Qada
dan QadarNya mesti berlaku. Manusia akan lebih dekat dengan agama,
kepentingan akhirat dan cinta kepada Allah. Hikmah ini walaupun sebesar
zarah tetapi apabila emelkat di hati kebaikannya lebih tinggi dari amal
lahiriah walaupun sebesar gunung. Inilah kebaikan di sebalik kepahitan
ujian. Justeru Allah berfirman :
".... Dan boleh jadi kamu menyukai
sesuatu sedangkan sesuatu itu merosakkan kamu. Dan Allah mengetahui,
sedangkan kamu tidak tahu"
(Surah al-Baqarah : 216)
Ujian itu menghapuskan dosa dan kesalahan terhadap Allah seperti bahan
pencuci membersihkan kain yang kotor. Nabi Isa pernah berkata, "Belum
dikatakan seseorang itu kenal Allah, sebelum ia bergembira dengan
musibah dan penyakit ke atas dirinya, kerana berharap supaya dihapuskan
kesalahannya"
Bila kita benci dengan ujian, ertinya kita belum kenal Allah dan
(kerana) ridak faham itulah cara (kaedah) Allah mengampunkan dan
membersihkan dosa-dosa kita. Ya, seolah-olah orang yang benci diuji itu
tidak suka dibersihkan daripada dosa-dosa atau apakah dia merasa tidak
berdosa? Sebaliknya apabila kita gembira (menerima dengan baik) ujian
itu, kerana yakin bahawa yang datangkan ujian itu juga daripada Allah.
Kita bukan sahaja berikhtiar (berusaha) untuk menghilangnya tetapi juga
berusaha untuk mendapatkan hikmahnya.
Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang dikehendaki Allah pada seseorang itu kebaikan, makan Allah akan cuba dengan ujianNya"
Jadi apabila diuji, terimalah dengan baik dengan mencari
hikmah-hikmahnya kerana tidak ada takdir Allah yang tiada hikmahnya.
Orang-orang soleh bila diuji, hikmah-hikmah ujian akan mendekatkan
mereka kepada Allah. Tapi bagi anti diuji, tidak akan dapat melihat
hikmah kerana akal dan hatinya melihat sesuatu hanya selari dengan
nafsunya sahaja.
Ingatan para hamba kepada Allah akan bertambah dengan ujianNya. Itu
petanda Allah pilih dia untuk diuji. Dan bila diuji, bertambah pulalah
ingatan hamba kepada Allah. Oleh itu, tiada jalan keluar melainkan tiga
langkah ini apabila diuji L
1) Kuatkan Iman, pupuk kesabaran, mantapkan keyakinan menghadapi ujian itu dengan segera mendekatkan diri kepada Allah.
2) Cuba serapkan rasa di dalam hati Kehendak (pilihan) Allah mengandungi hikmah yang baik jika diterima penuh keinsafan dan kesabaran.
3) Berbaik sangka dengan Allah dengan cara menyedari (mencari) hikmah. Inilah hakikat hidup yang dipilih Allah untuk kita.
Ya, Allah timpakan ujian yang besar, untuk 'membesarkan' kita. Ingat
itu. Justeru, ahli yang bijaksana sering berkata... Pemimpin yang besar
itu dikenali melalui ujian yang dihadapinya. Semakin besar tahap
kepimpinannya, maka semakin besarlah ujian yang Tuhan sediakan untuk
'membesarkan' lagi pengaruh kepimpinannya.
Dan setiap kita adalah pemimpin. Sekurang-kurangnya pemimpin buat diri
sendiri. Jadi, kita pasti diuji ! Justeru apabila diuji jangan katakan
"Apakah aku tersisih?"
sebaliknya, katakan.
"Aku sudah terpilih!"
"Apabila kira redha atas sesuatu yang
mengecewakan kita, maka percayalah Allah akan menggantikan kekecewaan
itu dengan sesuatu yang tak dijangka"
"Anehnya orang beriman, apabila diuji dia bersabar, apabila diberi kesenangan dia bersyukur"
Subscribe to:
Posts (Atom)

