Sunday, 25 May 2014

Menantu dan Mertua

Apabila kita bernikah sahaja dengan pasangan kita,secara tidak langsung kita akan terus mendapat ibu bapa mertua.Taraf dan penghormatan kita terhadap ibu bapa mertua ini sama seperti ibu bapa kita sendiri.Ada tanggungjawab yang kita perlu laksanakan kepada mereka.
 
Tahu tak kita bahawa suami apabila bernikah.. maka bertambahlah ibu bapanya.. iaitu termasuk ibu dan bapa mertuanya.. maka, ibu bapa mertua juga merupakan ibu bapanya jua.. Sehubungan dengan itu, Wajiblah si suami menjaga kedua ibu bapa mertuanya sebagaimana wajibnya si suami menjaga ibubapa kandungnya sendiri..Mengecilkan hati ibu mertua adalah perbuatan yg tidak boleh di maafkan melainkan taubat -kelak nanti syurga nya tidak ada bauan bagi suami.  

Suami mengatakan syurganya adalah ibunya, dan syurga isteri adalah suaminya. Benar itu dan kita tidak pernah nafikan perkara itu. Tapikan masih ada tolak ansur dan timbang rasa dalam perkahwinan, terutamanya bila melibatkan ibu bapa dan ibu bapa mertua.Tiada langsungkah nilai ibu bapa isteri kepada suami sedangkan mereka telah membesarkan dan memberikan pendidikan kepada si isteri. Sebagai seorang anak menantu yang baik, suami sepatutnya dapat bertimbang rasa terhadap perkara ini. Jika dia melukakan hati ibu kepada isterinya, adakah dia telah menjalankan tgjwb sebagai seorang anak menantu yang baik?..... , sikap timbangrasa dan saling hormat menghormati adalah penting dlm hidup berkeluarga ni. tak kira siapa la, kita mestilah menghormati setiap anggota keluarga kita. tak kira tua ataupun muda....semua tu terletak pd hati masing2. 

 Islam meletakkan martabat yang tinggi terhadap ibu,bapa dan juga mertua,justeru tanggungjawab itu tidak boleh di abaikan oleh menantu lelaki.Mengbaikan teguran dari mertua seolah-olah mengabaikan ibu bapa sendiri. Ibu mertua dan ibu sendiri adalah sama.... syurga lelaki atau suami ini di bawah tapak kaki ibu... bukan hanya pada ibu sendiri malahan ibu mertua...

Cara mewujudkan hubungan yang baik
-Pada dasarnya penyelesaian sesuatu masalah adalah bergantung pada diri kita sendiri.Kitalah yang bertanggungjawab untuk menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi.Jika hanya menunggu pihak lain untuk bertindak,kemungkinan besar penyelesaiannya akan menjadi lebih rumit.Maka bagi mereka yang mengalami masalah dengan mertua atau menantu,ada baiknya mereka mempertimbangkan beberapa saranan berikut:

  Berdamai dengan diri sendiri:
- Ertinya menciptakan suasana tenang dalam diri sendiri dengan mendekatkan diri pada Allah s.w.t dan mengenepikan sebarang buruk sangka terhadap mertua.Alihkan fikiran secara total pada hal-hal yang positif.Ingatlah bahawa setiap perselisihan pasti melibatkan lebih dari seorang dan dalam hal ini tidak ada manusia yang dapat lari dari kesilapan.
Oleh sebab itu,jka secara negatif dan selalu meyalahkan orang lain,maka sekarang belajarlah sedikit demi sedikit melihat sesuatu permasalahan secara objektif.Mulakan dengan mengubah pola pemikiran kita sendiri.Ingatlah ungkapan yang mengatakan:”change your thoughts and you will change your world”
  
 Komunikasi yang bijak akan melahirkan kedamaian Namun,jika hanya sebelah pihak sahaja yang berusaha kearah perdamaian,sudah pastinya matlamat untuk mendapatkan keharmonian dalam rumah tangga tidak tercapai.Mertua juga seharusnya memainkan peranan yang penting dalam perkara ini.Ada segelintir mertua yang selalu campur tangan dalam kehidupan anak-anak mereka walaupun sudah berkahwin.Sewajarnya,mereka tidak perlulah lagi masuk campur dalam masalah dan kemelut rumah tangga anak-anak mereka.Berikan mereka ruang untuk berbincang dan menyelesaikannya dahulu.Sebagai mertua,kita hanya boleh memberi nasihat dan panduan kepada anak-anak,tetapi biarlah mereka membuat keputusan sendiri untuk menentukan corak kehidupan mereka.





Thursday, 22 May 2014

Ya Allah ampunilah kami

Ya ALLAH.. Terangilah jiwa kami dengan cahaya-MU, bimbinglah langkah kami dengan petunjukMu dan Jagalah kami dari siksa api neraka.. Ya ALLAH.. Bimbinglah agar kami senantiasa memperbaiki diri, menyesali tiap kehilafaan dan berilah kekuatan agar kami mampu untuk tidak mengulanginya.. Ya ALLAH.. Ampunilah kehilafan kami, orang tua kami, sahabat kami serta jamaah semua yang membaca tulisan ini.. Aamiin Yaa Rabbal'aalamiin..

Subhanallah.. Rindunya Rasullullah SAW pd umatnya.


Suatu hari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bertanya: "Siapakah hamba ALLAH yang mulia?"
Para sahabat menjawab:"Para Malaikat yaa Rasulullah,dan tentulah para Nabi, merekalah yang mulia".

Rasulullah tersenyum lalu berkata:"ya,mereka mulia tapi ada yang lebih mulia".
Para sahabat terdiam lalu berkata:"adakahkami yg mulia itu, yaa Rasulullah?"

Rasulullah berkata:"tentulah kalian mulia, kalian dekat denganku, kalian membantu perjuanganku, tetapi bukan kalian yg Aku maksudkan.

Rasulullah lalu menundukkan wajahnya, Sang Baginda meneteskn air mata sehingga membasahi pipi dan janggutnya lalu berkata...

"Wahai sahabatku,mereka adalah manusia-manusiayang lahir jauh setelah wafatnya aku,mereka terlalu mencintai ALLAH & tahukah kalian..mereka tak pernah melihatku, mereka hidup tidak dekat denganku seperti kalian, tetapi mereka sangat rindu kepadaku & saksikanlah wahai sahabatku bahwa AKU SANGAT RINDU PADA MEREKA... MEREKALAH UMMATKU! "

SubhanAllah..

Apakah anda Rindu Kepada Rasulullah SAW ?

Ya Allah...
Pertemukanlah kami dengan Rasalullah SAW Di Akhirat Nanti.
Aamiin

SAYANGILAH KE DUA IBU BAPA KITA

Renungkan Lah Cerita Ini...
Dan Jangan Abaikan !!!!

Anakku, ketika aku semakin tua, aku berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untukku.

Suatu ketika aku memecahkan piring, atau di atas meja, karena penglihatanku berkurang aku harap kamu tidak memarahiku. Orang tua itu sensitif. Selalu merasa bersalah saat kamu berteriak.

Ketika pendengaranku semakin kurang jelas dan aku tidak bisa mendengar apa yang kamu katakan aku harap kamu tidak memanggilku “Tuli!”. Mohon ulangi apa yang kamu katakan atau menuliskannya. Maaf anakku, aku semakin tua.

Ketika lututku mulai lemah, aku harap kamu memiliki kesabaran untuk membantuku bangun, seperti bagaimana aku selalu membantu kamu saat kamu masih kecil, untuk belajar berjalan. Aku mohon jangan bosan denganku ketika aku terus mengulangi apa yang ku katakana, seperti kaset rusak, aku harap kamu terus mendengarkan aku. Tolong jangan mengejekku, atau bosan mendengarkanku.

Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil dan kamu ingin sebuah balon? Kamu mengulangi apa yang kamu mau berulang- ulang sampai kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Maafkan juga bauku. Tercium seperti orang yang sudah tua. Aku mohon jangan memaksaku untuk mandi. Tubuhku lemah. Orang tua mudah sakit karena mereka rentan terhadap dingin. Aku harap, aku tidak terlihat kotor bagimu.


Aku mungkin tidak akan bertahan lebih lama. Ketika waktu kematianku datang, aku harap kamu memegang tanganku dan memberikanku kekuatan untuk menghadapi kematian. Dan jangan khawatir ketika aku bertemu dengan Sang Pencipta, aku akan berbisik pada- Nya untuk selalu memberikan berkah padamu karena kamu mencintai ibu dan ayahmu.

Terima kasih atas segala perhatianmu nak. Kami mencintaimu dengan kasih yang berlimpah Ibu dan Ayah.

Ya Allah

Ya Allah! Sesungguhnya Engkau adalah Tuhanku; tiada Tuhan yang berhak disembah, melainkan Engkau. Engkau telah menciptakan diriku; aku adalah hambaMu dan telah berjanji untuk mentaatiMu sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada Engkau dari keburukan hal yang telah aku lakukan. Aku mengakui semua nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku, Dan aku mengakui pula dosa-dosa yang telah aku lakukan. Oleh kerana itu, Ampunilah aku, Ya Allah... Sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni dosa-dosa, Melainkan hanya Engkau.. ya Rabb."

Wednesday, 21 May 2014

Mengapa Allah menguji kita?

Mengapa Allah menguji kita?

Apabila diuji dengan kesakitan, perpisahan, kegagalan, kemiskinan... terdetiklah rasa , "Apakah Tuhan sayangkan aku?Kenapa aku diuji sebegini berat sekali?"
Kenali Tuhan yang mengujimu !
Tanpa kita sedari kita sudah mempersoalkan kuasa Tuhan, padahal kita hanyalah hambaNya. Hamba tidak berhak menyoal, sebaliknya akan disoal. Namun, itulah kelemahan manusia. Kita sering alpa dan terlupa.
Paling malang, manusia kerap terlupa dirinya hamba. Terutama ketika diuji. Sebab itu Allah mengajar kita kalimah 'istirja' setiap kali diuji. 
ان لله و إن اليه راجعون
"Kami milik Allah, kepadaNya kami akan dikembalikan"
Ya, inilah kalimah yang mengingatkan bahawa kita milik Tuhan, Tuhan layak menguji kita dan kita layak diuji. Jangan sesekali menolak apalagi 'mengamuk' apabila diuji. Kita hanya hamba...
Namun, untuk meringankan kepedihan ujian yang menimpa, hendak kita mengenal Allah yang memberi ujian itu, Kenallah sifat ilmu, kasih-sayang dan belas ihsan Allah yang Maha Hebat. Sebagai hamba ilmu kita terbatas, ilmu Allah yang Maha Luas. Kasih sayang kita cuma seraut, kasih sayang Allah selaut. Orang yang mengenal Allah, akan mencintaiNya. 

Orang yang mengenal kasih sayang Allah punya keyakinan bahawa keputusan (takdir) Allah itu yang memberikan yang terbaik. Allah Maha Pengasih dan Penyayang, tidak memberi sesuatu yang buruk untuk hambaNya. Justeru, hamba yang baik tidak akan berburuk sangka terhadap Allah dengan merasakan apa yang ditakdirkanNya (ujian) itu ialah sesuatu yang tidak baik.
Yakinlah bahwa semua ketentuan Allah itu adalah baik. Ujian itu pasti ada kemuslihatan yang tersembunyi untuk setiap kita. Pilihan Allah untuk kita adalah yang terbaik, cuma kita tidak tahu atau belum mengetahuinya. Bila berlaku nanti, barulah kita tersedar, Ya Allah, mujur Kau takdirkan begitu. Kata arifbillah (orang yang mengenal Allah):
"Sekiranya kita merasakan kasih sayang Allah itu terpisah apabila Dia menguji kita, itu petanda tumpulnya akal, butanya mata hati"
Di antara hikmah ujian, seseorang akan dapat menambah tumpuan dan tujuannya untuk menjadi hamba Allah. Yang mana selama ini, jalan itu disekat oleh hawa nafsu. Sebab ujian bertentangan dengan kehendak, keinginan nafsu dan syahwat manusia. Nafsu yang buas dan liar untuk melakukan maksiat itu tidak suka pada sakit, rugi, miskin dan lain-lain. Lalu apabila diuji, nafsu itulah yang terdesak, tidak sennag dan ingin segera terlepas daripada ujian itu.
Jadi, apabila nafsu terdesak, hati dan akal akan terbuka. Inilah jalan kebaikan, kerana ajakan untuk melakukan kejahatan akan turut tertahan, kerana nafsu itu sangat mengajak pada kejahatan. Ujian itu sesungguhnya akan melemahkan nafsu, menghilangkan kekuatannya serta batalkan kudratnya. Bila nafsu lemah, manusia tidak akan jatuh ke lembah disa - mengejar keseronokan dunia sehingga melupakan batasan syariat.
Ujian juga menimbulkan rasa taat kepada Allah. Hati tidak dapat tidak mesti bersabar. Hati akan terdidik untuk redha dan tawakal. kerana Qada dan QadarNya mesti berlaku. Manusia akan lebih dekat dengan agama, kepentingan akhirat dan cinta kepada Allah. Hikmah ini walaupun sebesar zarah tetapi apabila emelkat di hati kebaikannya lebih tinggi dari amal lahiriah walaupun sebesar gunung. Inilah kebaikan di sebalik kepahitan ujian. Justeru Allah berfirman : 
".... Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu sedangkan sesuatu itu merosakkan kamu. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak tahu"
(Surah al-Baqarah : 216)
Ujian itu menghapuskan dosa dan kesalahan terhadap Allah seperti bahan pencuci membersihkan kain yang kotor. Nabi Isa pernah berkata, "Belum dikatakan seseorang itu kenal Allah, sebelum ia bergembira dengan musibah dan penyakit ke atas dirinya, kerana berharap supaya dihapuskan kesalahannya"
Bila kita benci dengan ujian, ertinya kita belum kenal Allah dan (kerana) ridak faham itulah cara (kaedah) Allah mengampunkan dan membersihkan dosa-dosa kita. Ya, seolah-olah orang yang benci diuji itu tidak suka dibersihkan daripada dosa-dosa atau apakah dia merasa tidak berdosa? Sebaliknya apabila kita gembira (menerima dengan baik) ujian itu, kerana yakin bahawa yang datangkan ujian itu juga daripada Allah. Kita bukan sahaja berikhtiar (berusaha) untuk menghilangnya tetapi juga berusaha untuk mendapatkan hikmahnya.
Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang dikehendaki Allah pada seseorang itu kebaikan, makan Allah akan cuba dengan ujianNya"
Jadi apabila diuji, terimalah dengan baik dengan mencari hikmah-hikmahnya kerana tidak ada takdir Allah yang tiada hikmahnya. Orang-orang soleh bila diuji, hikmah-hikmah ujian akan mendekatkan mereka kepada Allah. Tapi bagi anti diuji, tidak akan dapat melihat hikmah kerana akal dan hatinya melihat sesuatu hanya selari dengan nafsunya sahaja.


Ingatan para hamba kepada Allah akan bertambah dengan ujianNya. Itu petanda Allah pilih dia untuk diuji. Dan bila diuji, bertambah pulalah ingatan hamba kepada Allah. Oleh itu, tiada jalan keluar melainkan tiga langkah ini apabila diuji L
1) Kuatkan Iman, pupuk kesabaran, mantapkan keyakinan menghadapi ujian itu dengan segera mendekatkan diri kepada Allah. 
2) Cuba serapkan rasa di dalam hati Kehendak (pilihan) Allah mengandungi hikmah yang baik jika diterima penuh keinsafan dan kesabaran.
3) Berbaik sangka dengan Allah dengan cara menyedari (mencari) hikmah. Inilah hakikat hidup yang dipilih Allah untuk kita. 
Ya, Allah timpakan ujian yang besar, untuk 'membesarkan' kita. Ingat itu. Justeru, ahli yang bijaksana sering berkata... Pemimpin yang besar itu dikenali melalui ujian yang dihadapinya. Semakin besar tahap kepimpinannya, maka semakin besarlah ujian yang Tuhan sediakan untuk 'membesarkan' lagi pengaruh kepimpinannya.
Dan setiap kita adalah pemimpin. Sekurang-kurangnya pemimpin buat diri sendiri. Jadi, kita pasti diuji ! Justeru apabila diuji jangan katakan 
"Apakah aku tersisih?"
sebaliknya, katakan.
"Aku sudah terpilih!"

"Apabila kira redha atas sesuatu yang mengecewakan kita, maka percayalah Allah akan menggantikan kekecewaan itu dengan sesuatu yang tak dijangka"


"Anehnya orang beriman, apabila diuji dia bersabar, apabila diberi kesenangan dia bersyukur"